Sabtu, 03 Desember 2016

Ini 10 Kota Paling Prospektif se-Asia Pasifik

http://surgabola88.com

Surgabola88.com - Urban Land Institute (ULI) bekerja sama dengan PricewaterhouseCoopers (Pwc) merilis daftar kota di Asia Pasifik dari sisi prospek investasi properti paling menarik pada 2017.

Survei ini diluncurkan setiap tahun untuk mendata perkembangan kota-kota terkait proyeksi investasi properti.

Jika tahun lalu Jepang dan Australia tampil sebagai favorit investor, pada 2017 muncul empat pasar negara berkembang sebagai pilihan teratas.
Berikut tulisan pertama urutan kota paling prospektif untuk investasi properti tahun depan.

Fokus utama investor di Bangalore, India, adalah bisnis process outsourcing (BPO) dan, baru-baru ini, industri TI. Kedua bisnis ini mendorong permintaan besar untuk ruang perkantoran baru baik dari perusahaan domestik dan internasional. Mereka berbondong-bondong untuk membuka kantor dalam upaya penelitian dan pengembangan.

Pasokan ruang baru yang diprediksi mencapai 12,7 juta kaki persegi pada 2016 memang terkesan cukup besar. Namun sebenarnya, jumlah ini tidak jauh berbeda dari tahun 2014 dan 2015.

Perkantoran baru diproyeksi akan menurun pada tahun selanjutnya dengan kisaran 9,8 juta dan 3,9 juta kaki persegi pada 2017 dan 2018.

Secara historis, kendala geografis mencegah perluasan Mumbai sebagai kota metropolitan. Hal ini menjadikan ibukota negara bagian India Maharashtra, tersebut sebagai kota termahal di India dan paling lambat tumbuh. Sebagai hasilnya, pemerintah daerah telah berkomitmen untuk membangun jalan dan rel, serta infrastruktur besar lainnya.

Program ini akan memungkinkan akses yang lebih mudah ke pusat kota dari daerah-daerah terpencil. Sebagian besar pembangunan direncanakan selesai sebelum 2019.

Berbagai komentar positif akan Manila, terhimpun dalam beberapa kali edisi survei tersebut. Dengan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh ledakan pasar business process outsourcing atau BPO dan pengiriman uang yang kuat dari pekerja di luar negeri, investasi properti di Manila semakin dilirik.

"Hari ini, fundamental tersebut muncul sekuat sebelumnya. Permintaan masih tangguh, dengan banyak bangunan yang dipesan sebelum penyelesaian," tulis survei tersebut.

Kekosongan unit juga rendah, sementara nilai modal kantor dan sewa terus menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Setelah beberapa tahun mengalami kelesuan ekonomi, Vietnam saat ini menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara. Menurut salah satu investor dalam survei tersebut, sekarang setiap sektor ekonominya menarik bagi investor.

Sementara investasi properti di Ho Chi Minh menjadi instrumen yang paling populer di Asia Tenggara. Modal investasi ini datang dari berbagai sumber, khususnya dari Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Kota Ho Chi Minh adalah mesin ekonomi utama negara, yang memiliki pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 7,5 persen tahun ke tahun pada paruh pertama 2016.

Pembicaraan besar baru-baru ini di Shenzhen lebih mengarah pada sektor residensial. Pasalnya, di sektor ini, harga telah melonjak lebih dari 40 persen dari tahun ke tahun pada tiga kuartal pertama 2016. Kenaikan harga ini merupakan yang tercepat di dunia.

Di sisi komersial, kantor sewa telah berada di pertumbuhan yang stabil selama bertahun-tahun. Hasil keuntungan sewa juga tercatat cukup tinggi yakni sekitar 5 persen. Sementara untuk kekosongan unit, tingkatnya konstan sebesar 10 persen.

Shenzhen telah memengaruhi lebih dari kota-kota besar lainnya di China dengan tindakan pemerintah untuk mengetatkan kredit. Kebijakan ini membuat permintaan sektor perkantoran berkurang yang berpengaruh pada jumlah pasokan baru.

Salah satu manajer investasi menyebut Shanghai memiliki daya tarik di China untuk investor asing. Kota ini menawarkan pertumbuhan yang cepat, relatif rendahnya tingkat birokrasi, dan pasar yang sarat permintaan dengan melimpahnya penyewa. Shanghai juga menawarkan harga aset yang tinggi untuk pengembangan suatu negara, dengan tarif kapital dikompresi di bawah 4 persen.

Survei membuktikan bahwa Jakarta telah menjadi pilihan populer dalam lima tahun terakhir. Namun, saat ini Jakarta berada di tengah besarnya jumlah pasokan baru dan berlanjutnya pelemahan permintaan dari penyewa di sektor komoditas.

Sektor perkantoran Jakarta disesaki 2,28 juta meter persegi ruang baru dalam kurun waktu 2016-2019.
Di sisi lain, harga sewa juga jatuh sampai 50 persen di sejumlah bangunan premium.

Menurut salah satu manajer pengelola dana, pada kelas menengah sampai ke atas, pasar sangat lemah.
"Fundamental yang kuat sekarang adalah pada pasar perumahan dengan kelas bawah. Selain itu, proyek multifungsi besar akan menghasilkan permintaan yang kuat," katanya.

Setelah bertahun-tahun mendekam di peringkat setengah ke bawah, saat ini Bangkok mengalami kenaikan. Sewa dan nilai modal tercatat meningkat secara terus-menerus selama 5 tahun terakhir dan kemungkinan akan menawarkan prospek jangka panjang lebih baik.

Saat ini, kantor kelas-A yang berdiri di Bangkok hanya di bawah 7 persen, menurut Jones Lang LaSalle.
Kesamaan dengan sebagian besar pasar Asia Tenggara lainnya, beberapa aset sudah tersedia di Bangkok. Dengan demikian, klien harus mengembangkan sendiri atau cukup puas terhadap pembelian strata.

Sydney jatuh dari peringkat kedua dalam survei tahun lalu ke peringkat sembilan pada 2017. Hal ini cukup mengejutkan mengingat popularitasnya tidak diragukan lagi di kalangan investor inti dalam wawancara survei tersebut.

Namun, kejatuhan ini mungkin karena, jumlah modal di luar sana yang mencari peluang di Sidney jauh melebihi jumlah peluang tersedia. Dengan kata lain, pasar menjadi sangat ramai. Kota ini terus menarik institusi investor asing, yang mewakili hampir setengah dari semua transaksi pada paruh pertama 2016. Keuntungan sewa kantor tetap menarik bahkan setelah diskon untuk insentif.

Hal tersebut berpotensi memberikan beberapa pertumbuhan yang cukup kuat selama tiga atau empat tahun berikutnya.

Sementara Guangzhou dinilai sebagai salah satu dari empat kota lapis pertama di China, kota ini justru dianggap sebagai kemunduran relatif dalam hal investasi.

Pasalnya aktivitas sektor keuangan dan perusahaan multinasional mengambil tempat di dekat Shenzhen.
Salah satu manajer investasi dalam survei ini mengatakan, Guangzhou tidak menuai cukup pujian seperti Shanghai dan Beijing. Namun, pemerintah kota berencana meningkatkan integrasi di area Pearl River Delta dengan jaringan transportasi yang lebih baik.

Tujuannya, untuk menghubungkan Guangzhou dengan daerah timur dan barat China dan meningkatkan permintaan jangka panjang di sektor properti terutama di bagian selatan kota. Sementara itu, sewa dan nilai properti relatif lebih murah dibandingkan dengan kota-kota tetangganya. Kota ini juga telah menjadi subyek investasi dan ekspansi yang cukup besar sejak 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar